
Bersama beberapa teman saya menggagas berdirinya sebuah kelompok yang akan kami sebut Lingkar Sahabat Sinematek, sebuah lembaga swadaya yang berkeinginan membantu menyelesaikan persoalan persoalan dan tantangan jangka panjang dari Sinematek Indonesia (selanjutnya saya sebut S.I saja). S.I adalah lembaga yang didirikan sejak 1975 atas inisiatif bersama beberapa tokoh senior perfilman antara seperti Misbach Yusa Biran dan Asrul Sani, dan didukung oleh gubernur DKI Jakarta kala itu Ali Sadikin. Visi-nya adalah melakukan pengarsipan yang terstruktur terhadap segala sesuatu yang terkait dengan perfilman Indonesia. Baik itu materi film (di S.I masih tersimpan copy positif Darah dan Doa karya Usmar Ismail) Poster Film (mereka menyimpan pula poster poster film seperti film Tiga Dara) dan berbagai barang cetakan lain seperti still foto maupun berbagai terbitan yang juga disimpan dalam perpustakaan mereka.
Kenapa kami tergerak membentuk Lingkar Sahabat Sinematek?. Sejak didirikan dana operasional SI sepenuhnya hanya ditanggung oleh Yayasan Pusat Perfilman Usmar Ismail. YPPHUI ini adalah lain didirikan pula bersamaan di tahun 1975 walau telah beberapa kali berganti nama. Yayasan ini mengandalkan beberapa jenis usaha yaitu menyewakan ruang ruang di gedung PPHUI kuningan dan menyelenggarakan kursus keterampilan perfilman melalui yayasan SDM Citra. Jelas Sinematek adalah sebuah upaya yang luhur namun memiliki konsekuensi biaya. Contohnya adalah keberadaan Film Vault (ruang simpan film) dimana copy film dalam bentuk film seluloid negative maupun positive disimpan, memerlukan suhu ruang berpendingin dengan kelembaban yang konsisten. Dengan kondisi film Vault seperti ini praktis copy film dapat bertahan sampai 400tahun. Di S.I film vault berada pada suhu 12 derajat dan tidak memiliki alat pengendali kelembaban. Film koleksi S.I sangat mengkhawatirkan kondisinya.
Upaya lain yang perlu dilakukan adalah memulai proses digitalisasi koleksi sinematek, agar publik dapat dengan tepat melakukan akses terhadap koleksi. Selama ini koleksi sinematek dapat diakses secara sangat terbatas dalam koleksi video yang ada disana, atau melalui pemutaran yang diupayakan oleh insitusi seperti Kineforum DKJ di Tim. Namun tentu akses yang memadai akan menambah peran sinematek dimasa depan.
Lingkar Sinematek diharapkan dapat menjadi sebuah lembaga yang mengupayakan proses berkelanjutan untuk menjadikan Sinematek Indonesia sebuah Sinematek yang ideal.
Seperti apa yang ideal?
Saat saya berkunjung ke Fukuoka saya diundang pula mengunjungi Fukuoka Film Archive, yang mengkoleksi dua film saya yaitu Gie dan 3 Hari untuk Selamanya. FFA adalah bagian dari Fukuoka City Public Library, sebuah institusi yang sangat kuat berdiri di satu sudut terbaik kota fukuoka berdampingan dengan City Art Gallery. Oleh salah seorang penjabat disana saya diantar dalam sebuah tur, mengunjungi fasilitas utama yaitu Film Vault. FFA memiliki sebuah vault dengan sistem filing modern yang dapat digerakkan melalui mekanisme sederhana. Ruangan ini memiliki sistem pendingin konstan 5 derajat selsius, dengan alat pengatur kelembaban yang memastikan bahwa kelembaban 40 % bisa terus terjaga. Dengan demikian bagian teknik archive ini cukup ditangani oleh dua orang saja, karena perawatan menjadi sangat minim, sepanjang konsistensi temperatur terjaga.
Akses publik terhadap 800an judul koleksi FAF dilakukan di sebuah auditorium pemutaran bernama Cine-La berkapasitas 300 orang. Hari itu diputarkan sebuah film karya klasik maestro jepang Tomu Uchida "The cursed sword and the massacre at Yoshiwara". Film tersebut berkisah tentang seorang buruk rupa yang kaya raya diera samurai, yang bergulat dengan godaan seorang geisha yang memberinya harapan cinta, dan mempertaruhkan eksistensinya. Film tahun 1958 tersebut, diputar dengan kualitas print yang menakjubkan. Mulus dengan kontras yang baik begitu pula kualitas suaranya. Di ruang pemutaran ini, banyak koleksi yang dibiarkan tidak menggunakan subtitle bahasa inggris. Subtitle dipancarkan melalui proyeksi digital dengan sistem sinkronisasi tertentu. Mereka percaya pula bila film celuloid melewati proses subtitle laser yang menggunakan cairan kimia, akan mengalami stress yang membuat kualitasnya menjadi lebih ringkih. Projector film di auditorium ini ada pula yang memiliki kecepatan putar yang dapat dikendalikan khusus untuk film film tua.
Copy positive seluloid film saya Eliana eliana, Gie, dan 3 Hari untuk Selamanya, saat ini tersimpan aman di 2 sinematek terpisah di Jepang, di Film Archive Fukuoka, dan Japan Foundation archive Tokyo. Semoga hingga ratusan tahun mendatang.
Oleh teman saya Bee Thiam dari Asian Film Archive, di Singapura saya berkunjung ke National Archive of Singapore, saya tidak melihat film vault disini, karena mereka memisahkan film vault dari pusat arsip mereka. Tetapi oleh seorang pejabatnya saya diantar menuju ruang dimana proses preservasi dan restorasi arsip dilakukan.
Ada sebuah mesin digitalisasi sederhana, yang menurutnya (hanya) berharga 100 ribu dollar Singapura. Alat ini semacam mesin steenbeck atau mesin editing flatbed untuk seluloid 35mm dan 16mm yang bisa langsung dihubungkan dengan perekam digital maupun analog. Alat ini memudahkan proses digitalisasi dengan biaya relatif murah. Alat bermerek TCM dari Paris ini dapat menjadi satu alternatif untuk memulai proses digitalisasi koleksi Sinematek Indonesia.
Singapura mulai melakukan proses digitalisasi dari semua produk audio visualnya baik film cerita, dokumenter maupun newsreel film. Menurut mereka copy film seluloid tetap merupakan format preservasi yang paling sempurna, karena format digital sampai saat ini masih merupakan teknologi yang terlalu muda, tidak bisa diandalkan untuk penyimpanan waktu lama. Namun proses digitalisasi penting agar master dalam bentuk seluloid tidak selalu harus dimanfaatkan untk akses publik.
Negeri dengan kekayaan sejarah budaya yang panjang seperti Indonesia selayaknya memberi penghargaan pada sejarah filmnya. Negeri ini sedang banyak masalah memang, tapi saya yakin ini bukan hanya persoalan anggaran. Masalahnya adalah keinginan dan bagaimana melihat persoalan secara luas dengan strategi yang agung dan mencari penyelesaian realistis. Sinematek Indonesia adalah milik bersama kita, Lingkar Sahabat Sinematek adalah satu jalan untuk menjaganya.